Peringatan Silsilah Jamgön Kangtrul

Jamgon-Kongtrul-Labrang

Peringatan Silsilah Jamgön Kangtrul

by admin

29 Dec 2012

Hari Pertama: Persembahan dan tarian

29 Desember awal dimulainya dua hari upacara memperingati silsilah tulku Kongtrul Jamgön serta membuat hubungan yang menguntungkan dengan inkarnasi keempat, Lodrö Chökyi Nyima Tenpey Drönme (Yang terpandai, Mentari Dharma, pelita bagi berbagai Ajaran). Peringatan ini mencerminkan kebiasaan mengingat perilaku Sang Buddha, dan dengan oleh keberadaan para biksu kami, biasanya pada hari peringatan parinirvana atau terkadang kelahiran mereka. Tahun 2012 menandai peringatan kedua puluh dari berlalunya Jamgön Kongtrul Ketiga: dalam tiga hari. Itu akan menjadi tahun 2013, peringatan 200 tahun dari kelahiran Jamgön Kongtrul Pertama, Lodrö Thaye (1.813-1.899). Kedua peristiwa membuatnya menjadi waktu yang sempurna untuk sebuah acara meriah; juga untuk menghormati inkarnasi saat ini, yang kini berusia tujuh belas tahun dan belajar di Vihara Institut Studi Buddhis tingkat Tinggi di Lava, dekat Kalimpong di India utara.

Malam sebelumnya pada tanggal 28, orang telah bekerja berjam-jam untuk mempersiapkan panggung Pavilion. Pada bagian depan dan tengah, di belakang tiga tahta untuk Jamgön Rinpoche, Karmapa, dan Gyaltsap Rinpoche, dengan megah; foto berukuran yang lebih besar dari Jamgön Kongtrul Ketiga, Lodrö Chökyi Senge (1954-1992), disusun dalam taman bunga biru. Meskipun ia meninggal di usia muda, kegiatan kemanusiaan Jamgön Ketiga Kongtrul untuk yang miskin, muda, dan orang lanjut terus tak terputus hingga hari ini. Terkenal karena pengabdiannya kepada gurunya, Karmapa Keenambelas, Jamgön Rinpoche memenuhi harapan Karmapa dan tinggal di Vihara Rumtek untuk mengasuh sangha dari Karmapa serta membangun Institut untuk Studi Buddhis tingkat Tinggi, yang masih tetap menjadi pusat penting dari pembelajaran.

Lebih keatas tangga di sebuah taman bunga merah adalah foto hitam putih besar dari Jamgön Kongtrul Kedua, Palden Khyentse Özer (1902-1952), yang lahir sebagai anak dari Karmapa ke Kelimabelas. Inkarnasi tersebut adalah guru besar meditasi dan guru dari Karmapa Keenambelas, sama halnya dengan Jamgön Kongtrul pertama sebagai seorang guru dari Karmapa Kelimabelas. Akhirnya, di bagian paling atas dari tangga di sebuah taman bunga putih, dua tangan cetakan berbingkai dari Jamgön Rinpoche Pertama, Lodrö Thaye. Jarinya yang anggun melengkung dikarenakan usia. Seorang guru besar dan sarjana yang brilian Rime (non sectarian), gerakan di Tibet pada abad kesembilan belas, Lodrö Thaye terkenal akan Lima risalah nya. Di sini, ia melanggengkan Dharma dari banyak garis silsilah dengan melatihnya serta mengumpulkan naskah-naskah sucinya.

Di bagian paling atas panggung pada kedua sisi, dimana dua altar dengan berbagai persembahan, termasuk Torma merah besar (rupang mentega), Enam layar besar di seluruh Pavilion menunjukkan pada penonton lebih dari enam ribu gambar peristiwa baik di panggung maupun yang terjadi di luar di mana dua puluh enam persembahan kain putih, masing-masing dipasangkan dengan bendera terang, mengirimkan dupa mereka tinggi-tinggi ke langit pagi.

Karmapa memimpin upacara purifikasi dan persembahan pada pagi ini, dikenal sebagai kepulan Awan Kebajikan, yang digubah oleh Jamgön Kongtrul Pertama untuk gurunya, Karmapa keempatbelas. Praktek ini membawa segala sesuatu yang positif ke dunia melalui memurnikan hal negatif dan membuat persembahan yang luas untuk seluruh istadevata kebijaksanaan tertinggi hingga ke pelindung area lokal. Versi khusus ini termasuk persembahan kepada Bernachen (Mahakala berjubah hitam), Mahakala berlengan enam dalam bentuk nya biru dan putih, Dorje Lekpa, Thanglha (Istadevata gunung Tibet yang mempunyai koneksi dengan Karmapa), dan banyak lainnya.

Khusus untuk upacara hari ini adalah partisipasi dari empat puluh dua mahasiswa dari perguruan TTS Sherab Gatsal di Dharamsala. Karmapa adalah bagai seorang ayah yang baik untuk para penari muda, ia mendatangi lima latihan di Paviliun, membawakan mereka momo (makanan khas Tibet) dan permen, serta member semangat para penari melalui pujian nya. Selama tiga bulan yang intensif, mereka telah dilatih dalam tarian yang dikenal sebagai Lingdro Dechen Rölmo, (Musik Berkah Agung, Tarian Gesar Ling), dan gerakan mereka yang presisi serta gemulai; indah untuk ditonton. Guru mereka adalah Tseyang Drolma, yang memegang garis silsilah dari tarian ini, diturunkan kepada dia dari bibi dan ibunya yang belajar dari para pemegang silsilah terakhir di Tibet. Mulai ada pada abad kesembilan belas, tarian ini muncul dalam visi Je Mipham Rinpoche.

Koneksi dekat Karmapa untuk Gesar sendiri ditambahkan pada berkah khususnya di upacara ini. Denma, menteri kepala Gesar, dianggap sebagai emanasi dari Karmapa, dan Karmapa keempatbelas lahir dalam garis silsilah keluarga Gesar. Keduanya, Karmapa Kedua dan Karmapa keempatbelas telah menyusun upacara purifikasi dan persembahan berdasarkan Gesar. Karmapa Keenambelas menyukai legenda Gesar dan menulis puisi dalam gayanya. Untuk Buku baru Tseyang Drolma tentang tarian, Karmapa yang sekarang menulis pengantar yang panjang merinci silsilah Lingdro, Koneksi-koneksi para Karmapa, dan praktek yang mendalam.

Tarian-tarian dianggap sebagai praktik Dharma Gesar dari Ling yang merupakan emanasi dari Guru Rinpoche serta Manjushri, Avalokiteshvara, Vajrapani, dan yang lainnya. Sebelum pertunjukan, para penari melafalkan Doa Tujuh baris untuk Guru Rinpoche, dan kemudian selama tarian, mereka berlatih melalui tubuh mereka, yang merupakan gerakan berbagai mudra, melalui ucapan mereka, sebagai mantra, dan melalui pikiran mereka, yang dengan jelas mempertahankan visualisasi istadevata. Manfaat bagi penonton adalah untuk membawa mereka menyukai Dharma dan untuk menciptakan hubungan yang positif Dharma dan pemerintahan menjadi sejahtera. Ini adalah cara yang indah untuk membuka pintu bagi aktivitas Jamgön Kongtrul Rinpoche berkembang di seluruh dunia.

Hari ini, setelah bagian pertama dari purifikasi dan persembahan, para penari datang di panggung dalam kostum yang megah. Orang-orang masuk dari sisi kanan kami dengan memegang banyak bendera tinggi berwarna cerah dan mengenakan Chupa brokat yang kaya warna, diikat dengan syal warna-warni. Dari bahu mereka menggantungkan relik dan seberkas panah, dan dari pinggang mereka, sebuah pedang permata. Para wanita masuk dari sisi kiri memegang panah umur panjang dan mengenakan Chupa brokat yang cemerlang, (gaun tradisional Tibet dengan rok panjang dan membungkus atasnya), kalung permata, dan deretan bunga di rambut mereka. Semua penari mengenakan lengan panjang sutra, memanjangkan bagian luar tangan mereka sehingga gerakan mereka tampak melayang di udara.

Tarian ini pertama kali disebut pancaran berkah, mengundang para Istadevata untuk datang dan hadir dalam upacara. Nyanyian silih berganti antara pria dan wanita saat mereka bergerak dalam lingkaran.

Bait lagu pria mengundang Gesar:

Ketika kita berpikir tentang Raja Singa yang Agung,
Kaki menari dan tangan kita berayun ke sana kemari,
Suara kami datang dalam melodi yang jelas dan penuh kerinduan.
Kami menyebutnya pangeran surgawi, Mentari yang benderang dari kemaha tahuan,
Penguasa semua makhluk, bulan purnama cinta kasih
Singa Agung yang memberkahi adalah secepat kilat


Dan bait lagu perempuan memanggil Tara:

Om. Dewi Kekosongan, Samudera Dharma,
Kumpulan Bunda Agung dan Dakini pengiringnya,
Cemerlang dan megah, datang berkumpul dalam awan.
membuat barisan sisi kiri tarian surgawi.
Menurunkan berkah yang indah dari garis silsilah ibu.

Tarian berikutnya adalah salah satu persembahan dan pujian, yang tentunya diikuti dengan persembahan mandala ke Karmapa dan barisan panjang persembahan yang ekstensif, sebagian besar oleh murid-murid Jamgön Rinpoche dari seluruh dunia. Setelah doa umur panjang untuk para lama’, lagu keempat, yang disebut sebagai berbagai macam Aktivitas, dilakukan oleh penari laki-laki dalam baju besi yang berkilau. Penari utama mengenakan warna hitam dan emas yang mengesankan; berdiri di atas panggung selama perayaan sembilan ratus untuk Karmapa. Setelah para bhiksu melantunkan praktek Gesar sebagai pelindung, lagu terakhir dari tarian memohon untuk keberuntungan melalui tubuh, ucapan, batin, kualitas, dan aktivitasnya; yang diakhiri dengan “Semoga semua akan berhasil dengan baik melalui pencapaian keceriaan yang luar biasa.”

Perasaan sukacita jelas hadir di Paviliun sebagai upacara yang menutup hari pertama memperingati garis silsilah Jamgön Kongtrul.

Tags:

Leave a Reply

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>